Bingung Mulai Systematic Literature Review? Simak Panduan 14 Keputusan Strategis untuk Peneliti Pemula

Daftar Isi

Pernahkah Anda merasa tenggelam dalam lautan informasi saat mencoba memahami suatu topik penelitian? Di era ledakan informasi saat ini, tantangan terbesar seorang peneliti bukanlah mencari data, melainkan menyaring mana yang benar-benar berharga. Di sinilah Systematic Literature Review (SLR) hadir sebagai kompas.

Kuasai teknik Systematic Literature Review (SLR) berkualitas jurnal top melalui 6 langkah praktis.

Banyak orang keliru menganggap SLR hanyalah ringkasan daftar pustaka yang panjang. Padahal, merujuk pada panduan komprehensif dari Philipp C. Sauer dan Stefan Seuring (2023) dalam artikelnya "How to conduct systematic literature reviews in management research", SLR adalah sebuah metode penelitian mandiri yang menuntut ketelitian setara dengan eksperimen laboratorium.

Artikel ini akan membedah "peta jalan" 6 langkah dan 14 keputusan strategis untuk mengubah tumpukan artikel menjadi kontribusi ilmu pengetahuan yang transformatif.

Apa Itu SLR dan Mengapa Kita Membutuhkannya?

Secara sederhana, SLR adalah upaya mengumpulkan, mengevaluasi, dan menyatukan semua penelitian berkualitas tinggi yang relevan dengan topik tertentu. Jika tinjauan pustaka biasa diibaratkan seperti sekadar "bercerita" tentang buku yang kita baca, maka SLR adalah sebuah "audit" pengetahuan. Tujuannya adalah menciptakan peta pengetahuan yang valid, transparan, dan dapat direplikasi oleh orang lain.

Sauer dan Seuring mencatat bahwa meski jumlah SLR melonjak dalam satu dekade terakhir, kualitasnya sering kali meragukan. Banyak peneliti terjebak pada deskripsi permukaan tanpa mampu menyajikan temuan yang berdampak. Melalui 6 langkah berikut, kita akan belajar bagaimana melakukan SLR yang tidak hanya sekadar "ada", tetapi juga diakui oleh komunitas ilmiah global.

Fase 1: Fondasi – Pertanyaan yang Menentukan Arah

Segala sesuatu dalam penelitian dimulai dengan rasa ingin tahu, namun dalam SLR, rasa ingin tahu tersebut harus dikemas dalam pertanyaan yang presisi.

  • Menentukan Kesenjangan (D1): Pertanyaan penelitian tidak boleh terlalu luas hingga kita tenggelam, atau terlalu sempit hingga tidak menemukan apa-apa. Penulis menyarankan tiga jalan: fokus pada industri spesifik, wilayah geografis tertentu, atau isu-isu yang sedang berkembang seperti kecerdasan buatan atau keberlanjutan.
  • Lensa Teoretis (D2 & D3): Anda perlu memutuskan apakah akan menggunakan teori yang sudah ada untuk membedah data (deduktif) atau membiarkan teori muncul secara organik dari data (induktif). Tanpa "lensa" teoretis, analisis Anda akan kehilangan ketajaman.

Fase 2: Karakteristik Studi

Setelah arah ditentukan, Anda harus menetapkan standar kualitas.

  • Kriteria Inklusi dan Eksklusi (D4): Ini adalah filter Anda. Anda harus memutuskan: Apakah hanya artikel jurnal yang sudah melalui peer-review? Apakah ada batasan tahun penelitian? Langkah ini krusial untuk memastikan bahwa Anda hanya membangun pengetahuan di atas fondasi yang kokoh, bukan di atas pasir dari artikel-artikel berkualitas rendah atau predator.

Fase 3: Pengambilan Sampel 

Di mana Anda mencari informasi akan menentukan hasil akhir Anda.

  • Sumber dan Database (D5): Penulis sangat menyarankan penggunaan database bereputasi seperti Web of Science atau Scopus. Mengapa? Karena database ini memiliki mekanisme kontrol kualitas yang ketat. Bergantung hanya pada Google Scholar berisiko mencampuradukkan karya ilmiah dengan artikel opini atau dokumen duplikat yang tidak valid.
  • Strategi Kata Kunci (D6): Merancang kombinasi kata kunci (search string) adalah seni tersendiri. Salah memilih kata kunci berarti ada kemungkinan artikel penting terlewatkan, yang bisa menyebabkan hasil tinjauan menjadi bias.

Fase 4: Seleksi – Kurasi dengan Ketelitian Tinggi

Setelah mendapatkan ribuan kandidat artikel, saatnya melakukan kurasi.

  • Proses Seleksi (D7): Proses ini biasanya dilakukan dalam dua tahap: pemindaian cepat pada judul dan abstrak, diikuti dengan pembacaan teks lengkap. Sauer dan Seuring menyebutkan bahwa untuk sebuah SLR yang solid di bidang manajemen, biasanya diperlukan setidaknya 30 hingga 50 artikel berkualitas tinggi untuk mendapatkan kedalaman analisis yang cukup.

Fase 5: Sintesis – "Dapur" Analisis Data

Inilah bagian yang paling sering diabaikan namun paling menentukan nilai sebuah SLR.

  • Alat dan Pengodean (D8 & D9): Hindari mengandalkan tabel Excel manual jika memungkinkan. Penggunaan perangkat lunak analisis kualitatif seperti MAXQDA atau NVivo memungkinkan Anda melakukan perbandingan antar-artikel secara jauh lebih efisien dan mendalam.
  • Analisis Lanjutan dan Validitas (D10 & D11): Peneliti didorong untuk menggunakan analisis statistik untuk melihat hubungan antar konsep. Selain itu, kejujuran mengenai potensi bias penelitian sangatlah penting. Prinsipnya sederhana: jika orang lain mengikuti langkah-langkah yang Anda tulis, mereka harus bisa menemukan hasil yang serupa. Inilah yang disebut dengan replikabilitas.

Fase 6: Pelaporan – Menyampaikan Cerita yang Berpusat pada Konsep

Langkah terakhir adalah bagaimana Anda mengomunikasikan temuan Anda. Banyak SLR gagal karena hanya bersifat deskriptif misalnya hanya melaporkan jumlah artikel per tahun.

  • Sintesis Berpusat pada Konsep (D13): Ini adalah poin paling vital. Jangan menulis: "Penulis A menemukan X, Penulis B menemukan Y". Itu membosankan dan tidak memberikan perspektif baru. Sebaliknya, tulislah berdasarkan tema: "Dalam hal tantangan teknologi, terdapat dua kubu pemikiran utama: perspektif infrastruktur (Penulis A, C) dan perspektif sumber daya manusia (Penulis B, D)."
  • Pemilihan Jurnal (D14): Akhiri dengan menargetkan jurnal yang relevan dengan dasar teori Anda. Pastikan karya Anda memberikan "peta jalan" bagi peneliti selanjutnya (agenda penelitian masa depan).

Kesimpulan 

Melakukan Systematic Literature Review adalah sebuah perjalanan intelektual yang menuntut disiplin. Dari panduan Sauer dan Seuring (2023), kita dapat menarik benang merah bahwa kualitas selalu mengalahkan kuantitas. Lebih baik memiliki 40 artikel yang dibedah secara mendalam daripada 200 artikel yang hanya dikumpulkan di permukaan.

SLR yang baik tidak hanya melihat ke belakang untuk merangkum apa yang sudah diketahui, tetapi juga menatap ke depan untuk menunjukkan apa yang belum kita ketahui. Dengan transparansi dalam setiap keputusan (14 keputusan strategis), Anda tidak hanya menulis artikel, tetapi Anda sedang membangun kredibilitas sebagai seorang pakar di bidang Anda.

Bagi Anda yang sedang memulai tesis, disertasi, atau penelitian profesional, ingatlah: Transparansi adalah mata uang tertinggi dalam sains. Jelaskan mengapa Anda memilih satu kata kunci, jelaskan mengapa Anda menyingkirkan satu jurnal, dan biarkan pembaca mengikuti logika berpikir Anda dengan jelas.

Sumber : Sauer, P.C., Seuring, S. How to conduct systematic literature reviews in management research: a guide in 6 steps and 14 decisions. Rev Manag Sci 17, 1899–1933 (2023). https://doi.org/10.1007/s11846-023-00668-3

Penulis & Editor : Ns. Hafizs Nasirun 

Posting Komentar